DIGITAL ENGAGEMENT – [Langkah#4 Digital Political Marketing]

dewi coryati
DIGITAL EXPECTANCY – [Langkah#3 Digital Polittical Marketing]
February 19, 2020
program haji furoda
Haji Selagi Muda – Haji Tanpa Tunda Bersama Royal Indonesia Travel
February 28, 2020

DIGITAL ENGAGEMENT – [Langkah#4 Digital Political Marketing]

digital branding

By Deddy Rahman, Founder Katapedia.id – Ini tahapan paling penting dalam proses peningkatan LIKEABILITAS bagi politisi. Tahapan ini dijalankan bersamaan dengan 2 tahapan pendampingnya, yakni Expectancy dan Preference. Terkait “Expectancy” sudah saya bahas di tulisan sebelumnya.

“Preference” sendiri secara sederhana bisa dianggap sebagai *acuan dasar* dalam menyukai politisi. Apakah politisi tersebut disukai karena persamaan dalam pandangan politik dengan pemilihnya, atau memang karena politisi tersebut disukai karena faktor dirinya sendiri.

Biasanya dalam PILEG, faktor partai pendukung dan pilihan calon presiden menjadi sangat penting, sedangkan dalam PILKADA, faktor politisi itu sendiri yang menjadi penentu terbesar.

Proses “Engagament” sendiri saya fahami sebagai proses untuk membuat calon pemilih menjadi “merasa dekat” dengan politisi. Politisi menjadi bagian dari “suara hati” calon pemilih. Calon pemilih merasakan momen “gue banget” bila mendengar dan melihat info terkait politisi tersebut. Rasanya seperti ada “ikatan khusus” dengan politisi tersebut, walaupun belum pernah ketemu dan berbicara secara langsung sama sekali.

Lalu, Bagaimana Membangun Engagement Secara Digital?

Pertama, politisi harus menentukan siapa calon pemilih utamanya. Segmen pemilih cukup banyak dan luas. Berbasis usia, gender, lokasi, suku, agama, pandangan politik, keberpihakan isu terkini, minat yang beragam, dan banyak bidang lainnya.

Pilihlah segmen mana saja yang dianggap paling pas dengan narasi dan brand yang akan dikampanyekan. Tidak harus semuanya. Cukup beberapa saja yang dianggap bisa “dipuaskan” secara optimal.

Segmen lainnya anggap “bonus” saja. Akan ditangani kelak bila sumber dayanya memungkinkan.

Saran saya, untuk politisi muda, sebaiknya menargetkan generasi milenial (kelahiran 1981-1994) dan generasi Z (kelahiran 1995-2010). Ini calon pemilih dengan jumlah terbesar. Mereka memiliki karakteristik yang menarik. Silahkan googling aja ya. 😁

Politisi yang memenangkan hati mereka akan memenangkan pertarungan di bilik suara. Mereka paling mudah ditemui di social media. Itu sebabnya kami masih yakin dengan postulat yang kami gemakan sejak 2012, yakni “Kemenangan di social media adalah refleksi kemenangan di bilik suara”.

Kedua, tentukan narasi untuk semua segmen calon pemilih utama. Akan jauh lebih baik bila dibuat hanya 1 narasi saja untuk semua segmen terpilih. Narasinya bisa semakin kuat dengan kemasan yang beragam.

Narasi yang kuat akan menggerakkan calon pemilih. Makin kuat narasi, maka makin lemah pengaruh money-politic bagi calon pemilih. Berlaku sebaliknya.

Ketiga, siapkan konten postingan yang sesuai dengan segmen calon pemilih utama. Untuk generasi milenial dan generasi Z, buatlah konten yang mengandung elemen CEF: Cool, Easy, Fun.

  1. Cool: konten dibuat secara baik, mengingat gen Milenial dan gen Z sudah terbiasa dengan konten-konten keren di social media.
  2. Easy: konten harus sangat mudah difahami. Kalau sampai pakai mikir segala, maka akan segera diabaikan.
  3. Fun: konten harus menghibur, entertaining. Kalau tidak lucu, tidak bakal seru. Mereka suka berbagi yang lucu. Jadi pertimbangkan pakai TikTok ya. 😄

*Keempat*, siapkan plan postingan harian. Postingan dengan konten yang bernarasi dan mengandung unsur CEF harus disiapkan secara sistematis dan terukur hasilnya. Postingan dibuat agar netizen tergoda untuk berkomentar dan berbagi. Postingan juga memperhitungkan waktu-waktu yang dianggap paling banyak untuk mendapatkan perhatian netizen.

Postingan bisa ditambahkan dengan geotag dan hastag yang memungkinkan jangkauan distribusinya bisa lebih luas. Efek leverage-nya dapat. Tambahkan juga program giveaway contests untuk membuat keramaian. Sedapat mungkin bekerjasama dengan akun-akun influencers yang memiliki followers dari segmen netizen yang dituju.

Kelima, komen netizen ditanggapi dengan baik. Udah gitu aja. 😄

Keenam, lakukan pengukuran dan optimasi. Minimal tiap pekan ada laporan lengkap terkait hasil postingan harian di akun social media politisi. Evaluasi pekanan akan sangat berguna untuk meningkatkan engagemant pada postingan pekan berikutnya.

Ketujuh, ini terakhir, lakukan kopdar rutin dengan netizen. Ini yang akan memberikan efek sangat kuat untuk meningkatkan LIKEABILITAS dari politisi tersebut.

Pastikan bahwa image yang sudah dibangun di ranah social media dan online benar-benar bisa ditampilkan saat bertemu dengan netizen di dunia nyata. Jangan sampai berbeda atau malah bertolak belakang, bisa ambyar. 😂

Baiklah, saya cukupkan dulu pembahasan sampai disini. Terima kasih telah membaca, apalagi, bersedia membagikannya. Makasih banget. 🙏😁

PS
Video “om telolet om” Anies-Sandi dibuat karena saat itu trendnya sangat tinggi. Mengalahkan trend 212. Total Digital Engagement dari video ini mencapai 5 juta di semua channel social media. ini contoh konten dengan CEF yang ditujukan untuk gen Milenial dan gen Z.

 

….

Artikel ini disadur oleh postingan narasumber di Facebook Pribadinya

Source: Facebook pribadi (Deddy Rahman, Founder Katapedia.id)

 

Baca Juga DIGITAL EXPECTANCY – [Langkah#3 Digital Polittical Marketing]

(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *